Corono Virus Di Indonesia

Corono Virus Di Indonesia

Sudah 9.278 nyawa melayang. 130.538 pasien masih berjuang. Namun, 85.831 orang telah membuktikan, sakit karena Virus Corona jenis baru atau COVID-19 dapat disembuhkan.

Data itu dikutip dari www.worldometers.info/coronavirus, pada Kamis (19/3/2020). Hingga pukul 19.33 WIB, tercatat ada 225.647 kasus positif Virus Corona COVID-19 di seluruh dunia.

Sementara itu, kurva epidemi COVID-19 di China, sebagai negara pusat wabah, menunjukkan kasus Virus Corona jenis baru ini telah mencapai puncaknya sekitar tiga pekan lalu. Kini, kurva terus bergerak turun, ketika kasus baru semakin sedikit dan pasien yang sembuh kian banyak.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, pandemi COVID-19 di dunia kini berpusat di Eropa. Karena kasus yang dilaporkan setiap hari lebih banyak dari yang tercatat di China pada puncak epideminya.

Italia, Iran, dan Spanyol tercatat sebagai negara dengan kasus terbesar di luar China dalam data peta Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE. Jumlah kasus infeksi Virus Corona COVID-19 paling besar tercatat di China, dengan 81.137 kasus, berdampingan dengan Italia yang mencapai 35.713 kasus.

Angka kematian paling besar tercatat di Provinsi Hubei, China, yang mencapai 3.130 jiwa. Namun korban meninggal terbesar di luar China berada di Italia, yang menembus 2.978 jiwa.

Kasus infeksi Virus Corona COVID-19 terbesar ketiga tercatat di Iran, yang mencapai 17.361 kasus dengan kematian yang mencapai 1.135 jiwa. Sedangkan kasus terbesar keempat tercatat di Spanyol, yang mencapai 14.769 kasus dengan 638 kematian.

Secara total, Virus Corona COVID-19 saat ini telah menyebar ke 176 negara dan wilayah di seluruh dunia.

Para peneliti pun mencoba menelusuri. Mencari tahu apa yang membuat virus ini menyebar dengan mudah hampir ke seluruh dunia. Sejumlah analisis genetik dan struktural telah mengidentifikasi fitur kunci dari virus –protein di permukaannya– yang mungkin dapat menjelaskan mengapa COVID-19 yang dipicu virus SARS-CoV-2 menginfeksi sel manusia dengan mudah.

Untuk menginfeksi sel, SARS-CoV-2 menggunakan protein lonjakan (spike protein) yang mengikat membran sel, suatu proses yang diaktifkan enzim sel tertentu. Analisis genom dari virus ini mengungkapkan protein lonjakan yang berbeda dari kerabat dekatnya, yakni SARS-CoV yang memicu severe acute respiratory syndrome (SARS) yang juga pernah mewabah pada 2002 lalu.

Meski pemicu COVID-19 dan SARS berasal dari satu famili, berdasarkan studi para ilmuwan, keduanya tidak memiliki situs aktivasi furin yang sama. Furin adalah enzim yang berfungsi sebagai aktivator protein dalam tubuh manusia.

Situs pembelahan mirip furin (furin-like cleavage site) baru-baru ini ditemukan dalam protein lonjakan SARS-CoV-2.

Itu adalah temuan penting. Sebab, furin ditemukan di banyak jaringan manusia, termasuk paru-paru, hati, dan usus kecil, yang berarti virus itu berpotensi menyerang banyak organ, kata Li Hua, seorang ahli biologi struktural di Universitas Sains dan Teknologi Huazhong Wuhan, China.

Temuan ini dapat menjelaskan beberapa gejala yang diamati pada orang dengan Virus Corona, seperti gagal hati atau liver, kata Li, yang ikut menulis analisis genetik virus yang diunggah pada server pracetak ChinaXiv pada 23 Februari. SARS dan Virus Corona lain dalam genus yang sama dengan virus baru tidak memiliki situs aktivasi furin, katanya.

Ahli virus dari Universitas Cornell, Gary Whittaker mengatakan, situs aktivasi furin membuat virus itu berbeda dengan SARS dalam hal masuknya ke dalam sel, dan mungkin mempengaruhi stabilitas virus dan penularan,” jelasnya, seperti dikutip dari Nature. Timnya menerbitkan analisis struktural lain dari protein lonjakan virus corona pada bioRxiv pada 18 Februari.

Beberapa kelompok lain juga telah mengidentifikasi situs aktivasi yang memungkinkan virus menyebar secara efisien di antara manusia.

Infografis Virus Corona Mereda di China, Menyebar di Dunia. (Liputan6.com/Trieyasni)

Sebanyak 15 pasien di antaranya telah sembuh, sementara 25 lainnya meninggal dunia. Menjadikan Indonesia sebagai negara di Asia Tenggara dengan tingkat kematian tertinggi, 8,4 persen.

Profesor Amin Soebandrio dari Eijkman Institute menyatakan, penyebaran Virus Corona COVID-19 di dunia saat ini sangat dipengaruhi sesuatu yang membatasi gerak-gerik virus dan juga yang membatasi manusia itu sendiri.

“Artinya kalau manusia tertular tapi tidak sakit, maka dia tidak akan menjadi sumber penularan ke orang lain, atau pun kalau dia menjadi sumber jumlahnya jadi lebih sedikit daripada yang sakit,” kata Amin ketika dihubungi Liputan6.com.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ini menilai langkah penanganan di Indonesia akan sulit dibandingkan dengan negara lain, mengingat bentuk negara Indonesia yang kepulauan sedangkan negara lain kebanyakan adalah kontinental. Tapi hal itu juga membawa keuntungan bagi Indonesia lantaran virus tidak menjadi mudah menyebar karena ada lautan yang memisahkan tiap wilayahnya.

“Jadi saat ini kita tidak bisa sepenuhnya meniru misalnya Korea atau China atau negara lain yang sudah dipandang berhasil walaupun belum 100%,” ujar Amin.

Langkah yang kini sangat perlu dilakukan, menurutnya, adalah mengidentifikasi dengan cepat siapa saja yang tertular dan kemudian membatasi supaya mereka tidak menjadi sumber penularan baru.

“Begitu seterusnya yang tertular cepat dicari kontaknya, cepat dibatasi lagi, sehingga ruang gerak itu akan terbatas.”

Pada akhirnya, imbuh dia, partisipasi masyarakat akan menjadi faktor penting. Dalam hal ini, ia mengacu kepada upaya menjaga kebersihan dan kesehatan diri masing-masing.

“Yang paling penting jadi kembali lagi ke partisipasi masyarakat menjadi sangat penting kalau semua orang menerapkan hal itu, artinya menjaga kebersihan dan dirinya supaya tidak tertular,” ungkapnya.

Ia pun menyayangkan masih banyaknya masyarakat yang masih belum menyadari tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan diri, terlebih masih banyaknya orang yang berkumpul di luar rumah.

“Setiap individu tidak boleh tertular dan tidak boleh menularkan ke orang lain itu saja.”

Maria Van Kerkhove, yang mengepalai unit penyakit WHO, memperingatkan, “tidak mungkin bagi kita untuk mengatakan kapan ini (Virus Corona COVID-19) akan memuncak secara global.”

“Kami berharap lebih cepat daripada terlalu lama lagi,” tegasnya.